Membangunkan Lahan Tidur Untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan Dan Perkebunan
Antara manusia dan tanah, pada dasarnya terdapat suatu hubungan yang erat dan penting. Kebudayaan Jawa mencatat ungkapan: sadumuk bathuk senyari bumi, ditohi pecahing dodo lan wutahing lurido—yang berarti bahwa dalam soal tanah, pertumpahan darah sangat dimungkinkan. Hal ini menunjukkan suatu masalah yang sangat mendasar. Pertama. Bahwa tanah berkait langsung dengan kehidupan dan kualitas hidup manusia. Di atas tanahlah manusia mengembangkan kebudayaan, berproduksi untuk memenuhi kebutuhan materialnya. Kedua, keterpisahan manusia dengan tanah, akan menjadi pangkal dari kesengsaraan atau penderitaan manusia—di zaman raja-raja sangat terlihat bagaimana akibat dari tidak dikuasainya tanah; sebagian mereka menjadi budak manusia lain.
Kepemilikan atau penguasaan manusia atas tanah, pertama-tama terkait langsung dengan strategi untuk mempertahankan hidup dan kehidupan manusia. Dengan demikian, seseorang akan membutuhkan suatu batas minimal, sehingga dirinya dapat memenuhi kehidupan materialnya. Jika batas tersebut tidak dipenuhi, maka sangat besar kemungkinkan orang tersebut akan gagal memenuhi kebutuhan materialnya sebagaimana standar umum.
Lahan tidur merupakan sebuah areal pertanian yang dibiarkan, tanpa adanya usaha pemanfaatan di lahan tersebut. Kebanyakan lahan tidur merupakan milik pemerintah maupun instansi tertentu yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi pertanian adalah terjadinya konversi lahan yang semakin cepat setiap tahunnya. Sebagai contohnya, adanya konversi lahan pertanian menjadi industri, pemukiman, jalan dan lain lain.
Lahan bisa ditanami dengan tanaman yang berkualitas dan memiliki umur panen yang pendek seperti sayuran dan tanaman lainnya yang mampur menghasilkan bahan pangan yang berkualitas. Hal ini dapat di budidayakan, selain dapat membantu lahan menjadi produktivitas, lahan tidur yang dimanfaatkan juga dapat menambahkan nilai ekonomi sekitar.

















